Music WorldNewsUncategorized

Workshop – Hari Pertama

Pada tanggal 26 Januari 2016, Wahana Musik Indonesia mengadakan acara workshop untuk pertama kali yang merupakan hasil kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, CISAC, APRA dan JASRAC. Acara workshop dipandu oleh Bapak Chico Hindarto selaku Ketua Pengurus WAMI dan secara resmi dibuka dengan sambutan yang ditulis oleh Bapak Direktur Jenderal KI, Prof. Dr. Ahmad M Ramli, S.H., M.H FCBarb. Pada saat itu Bapak Dirjen KI berhalangan hadir, maka sambutan dibacakan oleh Ibu Direktur Hak Cipta Desain Industri DTLST & RD, Dr. Dra. Erni Widhyastari, Apt, M.Si.

Para pembicara pada saat workshop adalah Bapak Benjamin Ng selaku perwakilan dari CISAC, Bapak Scot Morris selaku perwakilan dari APRA dan Bapak Satoshi Watanabe selaku perwakilan dari JASRAC. Kami turut mengundang para komisioner dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), Bapak Slamet Adriyadie, Bapak Adi Adrian, Bapak James Sundah dan Bapak Imam Haryanto selaku perwakilan dari Hak Cipta, sedangkan Bapak Samsudin Dajat Hardjakusumah (Sam Bimbo), Ibu Miranda Risang Ayu dan Bapak Handi Santoso adalah perwakilan dari Hak Terkait.

Pada sesi pertama workshop, Bapak Benjamin Ng menyampaikan presentasi tentang Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) secara umum dan Lisensi Musik. Bapak Benjamin Ng juga mengusulkan teori-teori terbaik kepada LMKN untuk diterapkan oleh para LMK di Indonesia, seperti :

  • Fokus pada peran kebijakan serta menerapkan prinsip pemerintahan yang baik agar LMK bisa beroperasi secara transparan, adil dan efisien.
  • Fokus pada penerapan tarif dan memfasilitasi kegiatan lisensi, khususnya lisensi karaoke dan penyiaran.

Pada sesi kedua, Bapak Scot Morris menjelaskan tentang lisensi dan memberikan contoh kolaborasi antara APRA dan label musik di Australia dan Selandia Baru. Menurut Bapak Scot Morris ada empat tahap dalam lisensi yaitu :

  • Melakukan riset dan pemahaman tentang arti dan kepentingan musik untuk suatu usaha,
  • Prinsip-prinsip penetapan tarif,
  • Taraf tertinggi,
  • Negosiasi.

Empat tahap tersebut dapat membantu para LMK untuk mengumpulkan royalti yang sudah disetujui oleh pengguna berdasarkan tarif yang sudah ditetapkan di dalam kesepakatan tertulis.

Pada sesi ketiga, Bapak Satoshi Watanabe menjelaskan tentang lisensi penyiaran di Jepang. Beliau memberikan contoh kasus antara JASRAC dengan Komisi Perdagangan Jepang dan di penghujung kasus JASRAC akhirnya bergabung dengan Five-Party Talk untuk menghitung secara adil repertoar penggunaan musik penyiaran tersebut. Sejak bulan April tahun 2015, penghitungan royalti penyiaran berubah menjadi :

Pendapatan Usaha Penyiaran      X     Tarif Royalti Setiap LMK     X   Rasio Penggunaan Aktual
(Tahun Lalu)                                                      (Tahun Ini)

Sesi tanya & jawab merupakan sesi terakhir dari acara workshop dan sebagian besar pertanyaan berasal dari para komisioner LMKN. Bapak Benjamin Ng secara resmi menyampaikan penutup sekaligus menekankan bahwa hanya LMK atau pemilik/pengarang lagu yang diperbolehkan untuk mengumpulkan royalti.

Previous post

WAMI Workshop 2016

Next post

[:en]WORKSHOP - DAY 2[:id]Workshop - Hari Kedua[:]

Amanda

Amanda

No Comment

Leave a reply